After Covid 19, Growth or Depression?

12
Sumit Dutta, Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia, menggarisbahawi adanya perubahan tren investasi sebelum dan sesudah pandemi Covid-19. Foto: Indonesia Economic Forum
Sumit Dutta, Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia, menggarisbahawi adanya perubahan tren investasi sebelum dan sesudah pandemi Covid-19. Foto: Indonesia Economic Forum

ALUMNINGGRIS.COM, JAKARTA – Indonesia Economic Forum bersama Synthesis, Orbit Future Academy dan Chairos menggelar Webinar Series bertema “After Covid 19: Growth or Depression” dengan menghadirkan pembicara utama Prof. Kishore Mahbubani, Senior Fellow di Asia Research Institute yang juga mantan diplomat Singapura dan mantan Dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy di National University of Singapore dan pembicara lainnya, Sumit Dutta, Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia.

Diskusi dalam webinar ini dipandu oleh Shoeb Kagda, Founder dan CEO Indonesia Economic Forum, pada Kamis (25/6/2020).

Melalui diskusi tersebut, para pembicara memaparkan pandangannya terkait tatanan dunia baru setelah pandemi Covid-19 dan dampak perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok terhadap negara-negara Asia dan negara-negara lainnya.

Topik lain yang juga dibahas adalah bagaimana negara berkembang di Asia Tenggara seperti Indonesia bisa memanfaatkan situasi ini untuk meningkatkan perekonomiannya.

Apakah Tiongkok mampu mengalahkan Amerika Serikat dan akankah Tiongkok akhirnya menjadi mitra datang utama negara-negara Asia menggantikan Amerika Serikat?

Dalam paparannya, Prof. Kishore Mahbubani menegaskan bahwa pemenang perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok akan terlihat di era pandemi Covid-19.

Mengingat, pandemi ini telah meluluhlantakan perekonomian kedua negara tersebut.

Kedua negara akan sama-sama mengalami tekanan struktural yang dalam.

Di satu sisi, keduanya masih memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi satu sama lain sehingga sulit terjadi decoupling di antara kedua negara.

Untuk memahami mana yang lebih adidaya di antara kedua negara tersebut, nampaknya idiom lama “the enemy of my enemy is my friend”, dalam hal ini Covid-19 bisa menjadi faktor penentu.