Ajak Anggota IABA Lebih Inovatif

17
Eddie Widiono, mantan Direktur Utama PLN di era Presiden Abdurahman Wahid ini, merupakan salah satu pencetus berdirinya Indonesia Association of British Alumni (IABA) di tahun 1990. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra
Eddie Widiono, mantan Direktur Utama PLN di era Presiden Abdurahman Wahid ini, merupakan salah satu pencetus berdirinya Indonesia Association of British Alumni (IABA) di tahun 1990. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra

ALUMNINGGRIS.COM, JAKARTA – Kiprahnya di bidang kelistrikan tak perlu diragukan lagi dan hampir 40 tahun dirinya menggeluti sektor energi kelistrikan.

Eddie Widiono, mantan Direktur Utama PLN di era Presiden Abdurahman Wahid ini, merupakan salah satu pencetus berdirinya Indonesia Association of British Alumni (IABA) di tahun 1990.

Di eranya, IABA mendapatkan perhatian banyak dari Perdana Menteri Tony Blair kala itu.

Dia sempat mempertanyakan kepada British Council kenapa ada wadah alumni Amerika namun tidak ada alumni Inggris.

Akhirnya dia bersama rekan-rekannya bertempat di sebuah cafe Big Ben Jakarta menggagas wadah alumni Inggris atau IABA sebagai cikal bakal mewadahi komunikasi antaralumni asal Inggris.

Eddie, lulusan S2 dari Imperial College London, menaruh harapan besar kepada IABA generasi milenial saat ini.

Baca juga: Pengawas Pemanfaatan Tenaga Nuklir

Menurutnya, bangsa ini gagap menghadapi kemajuan teknologi dibandingkan negara luar dan dampaknya timbul gap antargenerasi.

“IABA milenial diharapkan bisa menjadi motorik, memberikan inovasi, membawa perubahan dan survival bagi bangsa.”

“Bila bonus demografi ini tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, kita tidak punya skill dan terpinggirkan dan mudah terpapar radikalisme,” kata Eddie ketika ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kini Eddie telah pensiun tapi ia sigap melihat perkembangan teknologi dan memanfaatkannya demi keuntungan PLN dan masyarakat.

Melalui PT Prakarsa Ekatama Advisory (PEA) yang didirikan pada 15 Mei 2008, pihaknya memberikan layanan konsultasi investasi dalam bidang listrik, energi, mineral dan infrastruktur lainnya.

“Sejak pensiun dari PLN, saya terjun ke konsultan energi khususnya energi kelistrikan hal ini dikarenakan saya punya pengalaman, networking dan punya visi serta gagasan yang ingin saya dorongkan khususnya mendorong kemajuan energi,” sebut Eddie.

Dia berpandangan agar fokus listrik tidak melulu hanya di bidang pembangkit saja, maka harus ada hal lain yang perlu diperhatikan, seperti perkembangan teknologi untuk mengembangkan jaringan cerdas (smart grid).

Ia mengatakan bila negara dan PLN tak siap, maka laju inovasi justru dapat menjadi bumerang.

“Tren digitalisasi ini mengerikan, karena kita terlambat di bidang digitasi, maka ada kesenjangan antara perkembangan teknologi di luar, menciptakan gap.”

“Kesenjangan ini bisa dimasuki oleh mereka yang lebih berkembang lewat digitalisasi.”

“Jadi, mereka bisa masuk sebagai disruptive technology,” paparnya.

Baca juga: Hardliner Pro Integrasi, Ketua IABA Timor Timur

Ia mengambil contoh pentingnya peran digitalisasi dengan membandingkannya dengan Google.

Sebagai contoh data analytics yang dilakukan Google dapat membuatnya mengenal pelanggan, dan menurut dia PLN harus melakukan pendekatan serupa agar mengenal pola pelanggan.

“Google itu melakukan data profiling, tiap hari kita mau ngapain dia tahu.”

“Dengan data yang banyak mereka bisa tahu kebiasaan Anda, itulah customer centric tools.”

“Sekarang bila (PLN) cek ID pelanggan, yang muncul nomor, lokasi, siapa yang pakai, pekerjaannya apa, dipakai buat apa, mereka tak tahu,” pungkas Eddie. Fadli