Aktif Kampanye Kurangi Penggunaan Plastik

32
Dyah Roro Esti Widya Putri, anggota Komisi VII DPR RI, menginisiasi agar di DPR tidak ada lagi penggunaan plastik sekali pakai, terutama kemasan dan botol plastik. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra
Dyah Roro Esti Widya Putri, anggota Komisi VII DPR RI, menginisiasi agar di DPR tidak ada lagi penggunaan plastik sekali pakai, terutama kemasan dan botol plastik. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra

ALUMNINGGRIS.COM, JAKARTA – Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (Komisi VII DPR RI) adalah salah satu dari sebelas Komisi DPR RI dengan lingkup tugas di bidang Energi, Riset dan Teknologi, dan Lingkungan Hidup.

Di komisi ini, politisi muda, cantik, dan dari generasi milenial, Dyah Roro Esti Widya Putri, mengabdikan dirinya sebagai anggota legislatif dari Partai Golkar, di usia yang masih belia, 26 tahun.

Sebagai orang yang peduli terhadap lingkungan hidup dan perubahan iklim, 30 hari kerja setelah pelantikan, dalam rapat paripurna Roro – begitu panggilan akrabnya – menginisiasi agar di DPR tidak ada lagi penggunaan plastik sekali pakai, terutama kemasan dan botol plastik.

Baca juga: Rawat Kecantikan dengan Metode Trylogi

“Pasalnya, hanya sembilan persen dari sampah plastik yang bisa didaur ulang atau recycle, sedangkan sisanya mencemari lautan dan tertimbun di tempat penimbunan sampah atau landfill.”

“Sampah plastik dan mikro plastik yang tidak terurai dapat berdampak buruk bagi biota laut dan kesehatan manusia.”

“Perlu diingat Indonesia merupakan negara kepulauan dan memiliki lautan luas yang menjadi salah satu daya saing di skala international jika kita tidak bisa menjaganya dengan baik maka kita gagal dalam menjalan tugas kita.”

“Syukurlah, saat ini di setiap ruang rapat komisi yang dihadiri oleh anggota komisi maupun para pejabat negara sudah tak ada botol plastik dan itu sebuah terobosan yang belum terjadi di masa lalu,” tutur Roro kala ditemui di Jakarta belum lama ini.

Menurutnya, penanggulangan sampah plastik merupakan harus ada dua sisi yang mesti dilakukan, bottom up dan top down.

Dari segi bottom up, masyarakat perlu diedukasi agar mengenai plastik, mengubah gaya hidup agar hidup ramah lingkungan, misalnya melakukan hal-hal kecil seperti membawa tumbler dan tas sendiri.

Jadi mereka tak perlu lagi memakai plastik sehingga perlu ada terobosan, termasuk memasukkan dalam kurikulum pelajaran di sekolah yakni pendidikan kepada para murid untuk hidup ramah lingkungan.

“Ketika permintaan terhadap plastik menurun drastis maka para produsen plastik akan berpikir ulang.”

“Saat masyarakat tidak menginginkan produk mereka maka mesti mengubah bisnis modelnya.”

“Misalnya, mereka menggunakan bahan baku kemasan yang mudah terurai secara alami,” tutur Roro yang memiliki gelar Master Jurusan Kebijakan Lingkungan Hidup di Imperial College London tersebut.

“Sebenarnya kita juga punya kisah sukses di mana plastik sekali pakai sudah dilarang, contohnya di Bali.”

“Ini terobosan yang perlu sekali dilakukan sehingga akan membiasakan konsumen dan produsen.”

“Namun, hal ini membuat para produsen plastik tidak senang.”

“Beberapa waktu lalu, saya telah bertemu para pelaku industri plastik ini dan mereka mengeluhkan ide ini,” ungkap wanita muda yang menjadi wakil untuk daerah pemilihan Lamongan dan Gresik ini.
.
“Mereka minta dicarikan jalan keluar untuk daur ulang, kami tengah mengupayakan konsep Circular Economy seperti yang telah dilakukan di Eropa dapat diterapkan di Indonesia, dimana barang-barang, terutama plastik, bisa dikumpulkan di suatu tempat tertentu lalu didaur ulang.”

“Masalahnya, belum ada infrastruktur untuk mendukung kebijakan tersebut dan apakah masyarakat Indonesia siap dengan gaya hidup seperti itu?”

“Jadi, cara yang paling mudah saat ini adalah dengan melarang penggunaan plastik sekali pakai,” kata sulung dari dua bersaudara ini.

Namun kebijakan itu mesti dilakukan secara perlahan dalam penerapannya.

Pasalnya, ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya di industri plastik.

Baca juga: Ingin Banyak Kaum Wanita Terjuni Teknologi Siber

Ada banyak pekerja di industri ini sehingga jangan sampai kebijakan yang dibuat justru akan menambah pengangguran.

“Kita mesti ciptakan solusi agar para pelaku usaha industri plastik ini bias mengubah usahanya ke industri yang ramah lingkungan.”

“Kita pun harus menawarkan pekerjaan-pekerjaan baru yang baik untuk lingkungan, guna mewujudkan hal ini tentu membutuhkan waktu juga.”

“Walau begitu, diskusi terbuka mengenai isu ini tetap harus dilakukan.”

“Saya optimistis kita dapat berubah ke arah yang lebih baik,” pungkas Roro. Wisesa