Belajar Kehidupan di Inggris

20
Heru Dewanto berharap alumni IABA dapat mulai memikirkan peran strategisnya dan ikut berkontribusi untuk bangsa dan negara. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra
Heru Dewanto berharap alumni IABA dapat mulai memikirkan peran strategisnya dan ikut berkontribusi untuk bangsa dan negara. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra

ALUMNINGGRIS.COM, JAKARTA – Selepas lulus dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada pada tahun 1991, Heru Dewanto sempat diterima bekerja di Caltex dan ASEA Brown Boveri (ABB).

Namun, ia hanya bertahan selama beberapa bulan saja di sana, dia memutuskan melanjutkan pendidikan S2 setelah menerima beasiswa dari Pemerintah Austria dan British Council.

“Saya berangkat ke Inggris untuk belajar di Institute for Transport Studies the University of Leeds United Kingdom, sebelumnya saya belajar di Universitat Innsbruck di Austria tentang perkeretaapian.”

“Di Leeds saya belajar Transport Planning and Engineering, saat itu saya masih fresh graduate dan belum berkeluarga.”

“Selama di Inggris, selain belajar di kampus, saya banyak belajar tentang kehidupan, kultur, bahasa, budaya, dan berinteraksi dengan orang lain yang mempunyai kultur serta latar belakang sosial yang berbeda-beda.”

“Tidak saja bertemu dengan orang Inggris, tapi juga dengan warganegara lain yang tengah belajar di sana,” ungkap Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) itu.

Baca juga: Sekitar 1,9 Juta KK di Jabodetabek Bakal Terima Bansos Covid-19

Heru mendapat beasiswa dari British Council untuk menyelesaikan Pendidikan S2 selama satu tahun.

Oleh karena dia mesti selesaikan pendidikan dalam satu tahun, sementara beberapa seniornya harus menyelesaikannya dalam dua hingga tiga tahun, maka ia bertanya pada salah seorang Profesor bagaimana kiatnya agar dia dapat menyelesaikan kuliah S2 dalam waktu satu tahun.

Profesor itu bilang, mahasiswa Indonesia sering tidak menjawab pertanyaan.

Setelah mencerna apa maksud dari pernyataan itu, Heru memahami, karena terbiasa menghafal maka mahasiswa Indonesia sering menjawab apa yang mereka hafalkan dan bukan yang ditanyakan.

“Penjelasan dari profesor itu membekas dalam benak saya,” kenangnya.

Selain itu yang ia sukai dari Inggris adalah kreativitas, banyak hal-hal baru lahir di Inggris, terutama yang berkaitan dengan industri kreatif.

Dalam perkuliahan pun dia merasa lebih banyak terjadi diskusi, mahasiswa diberi ruang mengemukakan pendapat dan berinovasi.

Baca juga: Giat Mengembangkan Potensi Kabupaten di Tanah Air

Kala ditanya soal Indonesia Association of British Alumni (IABA), Heru menilai karakteristik alumni Inggris ikatan emosionalnya lebih cair dibandingkan paguyuban alumni yang dimiliki Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Indonesia dan lainnya.

Pasalnya, anggota IABA belajar di Inggris dengan masa belajar yang singkat.

“Jadi secara bertahap, IABA mesti menjadi tempat yang nyaman dulu bagi alumni Inggris untuk saling berinteraksi, silaturahmi, kumpul-kumpul, dan mengenang masa lalu.”

“Setelah jejaring antara alumni kuat maka IABA dapat mulai memikirkan peran strategisnya dan ikut berkontribusi untuk bangsa dan negara,” tutur Heru. Wisesa