Digembleng Jadi Pede, Mandiri, dan Disiplin

50
Network Director PT Mega Akses Persada (FiberStar) Ari Tjahjanto menyatakan, disiplin khas Inggris jadi salah satu sikapya dalam menjalani kehidupan dan meniti karier suksesnya. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra
Network Director PT Mega Akses Persada (FiberStar) Ari Tjahjanto menyatakan, disiplin khas Inggris jadi salah satu sikapya dalam menjalani kehidupan dan meniti karier suksesnya. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra

ALUMNINGGRIS.COM, JAKARTA – Ari Tjahjanto menempuh pendidikan S1 di Imperial College London dan mengambil jurusan Matematika dari 1990 hingga 1994.

Selain memperoleh ilmu di bangku kuliah, dia mengaku digembleng untuk jadi pribadi yang percaya diri atau pede, mandiri, dan berdisiplin.

“Kalau matematika tidak banyak digunakan dalam pekerjaan saya saat ini.”

“Namun, di Inggris, saya belajar memupuk rasa percaya diri, mandiri, dan hidup disiplin.”

“Saya rasakan pendidikan di Inggris mengubah saya jadi pribadi yang percaya diri dan berani berbicara di depan publik serta mandiri.

“Walau begitu, saya selalu terbuka untuk belajar, termasuk menerima saran konstruktif dari orang lain,” ucap Network Director PT Mega Akses Persada (FiberStar) itu di Jakarta belum lama ini.

Baca juga: Belajar Kehidupan di Inggris

Selain itu, disiplin khas Inggris jadi salah satu sikapya dalam menjalani kehidupan dan meniti karier suksesnya.

“Menjaga kebersihan, tertib berlalu lintas, mau mengantri, serta menghargai waktu berpengaruh positif dalam kehidupan dan pekerjaan saya.”

“Oleh sebab itu, saya juga menanamkan hal tersebut kepada anak-anak saya,” tutur Ari.

Bicara soal Indonesia Association of British Alumni atau Ikatan Alumni Britania Raya (IABA), selain memperkuat jejaring hingga mewujudkan kerja sama bisnis antaralumni, Ari berharap IABA dapat berperan aktif untuk menggalang aksi sosial.

“Di mulai dari membantu rekan alumni yang kurang beruntung sampai turut berkontribusi dalam upaya membantu masyarakat yang tertimpa bencana.”

“Lewat IABA, alumni bisa digerakkan untuk peduli dan membantu sesama,” tuturnya.

Bicara soal fiber optik, dia menyatakan teknologi ini adalah tulang punggung untuk digitalisasi di masa depan dimana media ini memiliki kecepatan tinggi, tingkat keamanan yang, jangkauan luas dan kapasitas transmisi data yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan teknologi sebelumnya.

“Usia FiberStar masih muda, baru berumur lima tahun, dibandingkan competitor yang rata-rata sudah eksis selama 10 tahun atau lebih.”

“Oleh sebab itu kami harus bergerak cepat agar segera menyamai bahkan melampaui kompetitor,” ucap Ari.

Menurutnya, yang membedakan FiberStar dengan kompetitor lainnya adalah dalam hal pelayanan.

Pertama, FiberStar mengedepankan pelayanan pelanggan yang dilakukan dengan sepenuh hati.

Kedua, FiberStar mengusung konsep teknologi Net Neutrality yang pertama dan satu-satunya di Indonesia.

Artinya, semua operator dapat menggunakan layanan infrastruktur fiber optik FiberStar.

“Saat ini yang menjadi pelanggan FiberStar adalah mitra ISP yang tersebar di seluruh Indonesia.”

“Jadi apapun pilihan layanan konten dari mitra ISP FiberStar dapat menggunakan infrastruktur fiber optik kami.” ucap pria penghobi mainan Lego ini.

FiberStar yang kini telah tersebar di 94 kota dan 14 provinsi telah memiliki kantor representatif di kota Medan, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya dan Denpasar.

Baca juga: Giat Mengembangkan Potensi Kabupaten di Tanah Air

Hal ini merupakan salah satu bentuk nyata komitmen FiberStar dalam memberikan pelayanan terbaik bagi para mitra.

“Sebagai Network Director, saya fokus untuk memberikan sistem yang terbaik untuk mencapai tujuan perusahaan. Sistem perusahaan yang kuat dibangun dengan kerangka kerja yakni people, policy, dan technology (PPT).”

“Selain PPT, ada juga employee experience dan customer experience yang terkait tiga hal yakni, budaya, ruang kerja, dan teknologi.”

“Kalau budayanya tidak bagus maka karyawan tak mendapatkan employee experience, jika ruang kerjanya tak baik maka bagaimana employee bisa nyaman bekerja, dan bila teknologi tak baik maka karyawan tak bisa men-deliver customer experience,” pungkas Ari. Wisesa