Giat Mengembangkan Potensi Kabupaten di Tanah Air

27
Selain menjadi Ketua Asosiasi Alumni Chevening Indonesia (AACI), Gita Syahrani adalah Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) yang merupakan forum kolaborasi antarkabupaten yang bersinergi dengan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi). Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra
Selain menjadi Ketua Asosiasi Alumni Chevening Indonesia (AACI), Gita Syahrani adalah Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) yang merupakan forum kolaborasi antarkabupaten yang bersinergi dengan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi). Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra

ALUMNINGGRIS.COM, JAKARTA – Selain menjadi Ketua Asosiasi Alumni Chevening Indonesia (AACI), Gita Syahrani merupakan Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL).

Lembaga ini merupakan forum kolaborasi antarkabupaten yang bersinergi dengan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi).

Gita menuturkan bahwa fungsi LTKL ada tiga yaitu menyusun strategi, merangkai gotong royong, dan menjalin komunikasi.

Fungsi strategi maksudnya, sekretariat LTKL menerjemahkan komitmen kabupaten pendiri LTKL yakni tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs), pengurangan emisi gas rumah kaca, dan pemerintahan yang transparan atau terbuka, ke dalam program-program kerja yang nyata dan pemerintah daerah (Pemda) yang mengimplementasikan program-program tersebut.

“Saat pemerintah kabupaten tak dapat mengimplementasikan program itu sendiri, maka LTKL melalui programnya akan menghubungkan Pemda dengan mitra-mitra yang bisa mendukung mereka, seperti lembaga pemerintahan, lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau non government organization (NGO), pihak swasta, hingga media massa,” papar Gita di Jakarta belum lama ini.

Baca juga: Siapkan Masa Depan untuk Para Anak Berkemampuan Khusus

Untuk melakukan hubungan itu, LTKL punya beberapa program dan salah satunya adalah Masterclass Investasi Lestari.

Lewat program ini, LTKL mempertemukan 12 hingga 15 dinas per kabupaten bersama dengan pemangku kepentingan di kabupaten termasuk masyarakat sipil, swasta dan masyarakat untuk bersama- sama menyusun portofolio investasi yang mereka inginkan.

Ada beberapa seri, untuk Seri I, fokus di komoditas yang terdiri dari tujuh komoditas strategis yang mau dikembangkan, yaitu kopi, karet, kakao, rempah-rempah, kelapa sawit, hasil hutan bukan kayu, dan kelapa.

“Dari tujuh komoditas strategis itu masing-masing kabupaten memilih komoditas mana yang hendak dikembangkan.”

“Misalnya, Kabupaten Gorontalo memilih untuk mengembangkan kelapa dan didetailkan lagi apakah mengembangkan industry downstream, upstream, atau konsentrasi di tengah-tengah yakni supply chain management-nya dan semua dibuat dengan detail,” alumna University of Dundee tersebut.

Tanggal 4 Juli 2019 silam, Apkasi menggelar kegiatan tahunan, yakni Otonomi Expo.

Dalam kegiatan itu, LTKL membuat acara Implementation Dialogue & Business Matching bekerja sama dengan Tropical Forest Alliance 2020 (TFA2020) yang fungsinya memberi ruang kepada para Pemda kabupaten yang sudah mengikuti Program Team Masterclass untuk mempresentasikan atau fetching portofolio investasi di daerahnya masing-masing.

Masing-masing kabupaten, yang diwakili bupati atau kepala dinas, mempresentasikan di depan para mitra-mitra potensial dalam waktu delapan menit.

“Setelah melakukan pitching, segera dilakukan business matching yang mempertemukan mereka dengan mitra-mitra potensial yang mau berinvestasi.”
 
“Investasi tidak semata investor menanamkan uang di kabupaten tersebut.”

“Investasi itu bisa berupa pihak donor memberikan proyek, bantuan teknis, media massa meliput ke sana secara gratis, hingga berinteraksi dan bekerja sama lembaga atau organisasi tertentu, seperti IABA,” ucap Gita.

Dia menyatakan, LTKL juga merancang Program Kerangka Daya Saing Daerah.

Lewat program ini, kabupaten setiap tahun bisa mengeluarkan laporan perkembangan program sesuai dengan komitmen yang disusun sesuai kebutuhan mitra potensial.

Baca juga: Alumni Inggris Adalah Aset Berharga

Sejauh ini, para pendiri LTKL membatasi keanggotaan kabupaten maksimal 10 kabupaten aktif.

“Pasalnya, para pendiri ingin membuktikan bahwa SDGs itu possible.”

“Saat kami hanya fokus ekspansi anggota maka kami tak bisa dalam.”

“Oleh sebab itu, jumlah anggota sengaja dibatasi dengan berbagai persyaratan mesti dipenuhi kabupaten yang berminat jadi anggota.”

“Ketimbang menambah, LTKL justru mencari kabupaten yang benar-benar serius dan setiap tahun LTKL mengevaluasi administrasi terhadap para anggotanya.”

“Ketika kabupaten tersebut tidak memenuhi kualifikasi yang diminta, maka Sekretariat LTKL merekomendasikan kepada Dewan Pengurus agar menonaktifkan keanggotaan kabupaten itu,” pungkas Gita. Wisesa