Indahnya Sunset dan Mistisnya Tari Kecak di Uluwatu

10
Saat menatap takjub sunset di Uluwatu ada rasa kagum, damai, serta syukur yang mengalir atas salah satu masterpiece dari Tuhan Yang Maha Kuasa tersebut. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Wisesa
Saat menatap takjub sunset di Uluwatu ada rasa kagum, damai, serta syukur yang mengalir atas salah satu masterpiece dari Tuhan Yang Maha Kuasa tersebut. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Wisesa

ALUMNINGGRIS.COM, BADUNG – Indah dan mengagumkan, dua kata ini mungkin bisa sedikit mendefinisikan pengalaman indera mata kita ketika menyaksikan dari atas tebing batu setinggi sekitar 97 meter di kawasan Pura Uluwatu yang menghadap laut Samudera Indonesia, kala sang Surya beranjak masuk ke peraduannya menjelang malam.

Kata Uluwatu sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti puncak batu karang.

Tatkala terbenam, Bagaskara memancarkan cahaya terang jingga berpadu kuning,kemerahan yang memantul dan berpendar di atas hamparan lautan.

Lalu perlahan cahaya memudar itu seiring menghilangnya matahari di horizon dan digantikan kegelapan malam.

Menyaksikan matahari terbenam di Uluwatu menjadi objek wisata yang diminati para wisatawan mancanegara. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Wisesa

Saat menatap takjub sunset di Uluwatu ada rasa kagum, damai, serta syukur yang mengalir atas salah satu masterpiece dari Tuhan Yang Maha Kuasa tersebut.

Selain itu, menikmati keindahan matahari terbenam, Uluwatu – yang berada di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali – menawarkan objek wisatawan yang tak kalah menarik dan eksotisnya dibandingkan menyaksikan matahari terbenam di ufuk barat, yakni Tari Kecak.

Baca juga: Sensasi Menyelam Dalam Jutaan Galon Air Mineral

Guna menyaksikan Tari Kecak ini, kita harus membayar tiket masuk ke arena pertunjukkan sebesar Rp100 ribu untuk pengunjung lokal dan Rp150 ribu untuk wisatawan mancanegara.

Tarian ini diciptakan pada tahun 1930 oleh seorang seniman tarian Bali, Wayan Limbak.

Tari Kecak ini dimainkan oleh sekitar 50 orang penari dan para penari tersebut duduk melingkar sambil mengucapkan kata “cak-cak-cak-cak” secara serentak dan berirama.

Aura Mistis

Sebelum pertunjukan dimulai, seorang pendanda melakukan ritual dan memberkati arena pertunjukan serta penonton dengan memercikkan air suci.

Hal ini dilakukan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sekaligus memohon perlindungan agar pertunjukan berlangsung lancar hingga akhir dan aktivitas ini memberikan aura mistis dari Tari Kecak.

Tari Kecak merupakan rangkaian dramatari yang mementaskan cerita Ramayana.

Oleh karena itu para penarinya ada yang berperan sebagai Sri Rama, Dewi Sinta, Rahwana, Jatayu, Hanoman, serta Sugriwa.

Tari Kecak yang mengisahkan sebagian kisah dari Epos Ramayana menjadi salah satu atraksi yang menarik di Uluwatu. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Wisesa

Secara garis besar dramatari mengisahkan asal usul kera sakti bernama Hanoman yang diberi tugas oleh Sri Rama untuk membawa pulang istrinya, Dewi Sinta, yang diculik oleh raja raksasa dari Alengka, Prabu Rahwana.

Para penonton yang menyaksikan duduk melingkar dengan wisatawan yang lain dan mereka bisa menyaksikan keindahan sunset karena panggung pertunjukkan dirancang agar penonton bisa sekaligus melihat sunset.

Jadwal pementasan Tari Kecak Uluwatu adalah setiap hari pada pukul 18.00 hingga 19.00 waktu Indonesia bagian tengah (WITA).

Semua penonton menghadap ke penari yang akan mementaskan pertunjukan Tari Kecak.

Ada sebuah tungku di tengah-tengah penari sebagai perlengkapan pertunjukan.

Tak hanya menari di tengah arena pertunjukkan, sesekali sang pemeran Hanoman berinteraksi dan menggoda penonton.

Baca juga: Mengamati Keunikan Tarsius Langka dari Bukit Peramun

Sebelum masuk ke Pura Uluwatu ini, wisatawan akan diminta untuk mengenakan kain selendang di pinggang.

Jika kebetulan kitamengenakan pakaian pendek di atas lutut, maka harus menggunakan sarung.

Bunga Bangkai langka tumbuh di Uluwatu. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Wisesa

Hal ini dikarenakan Pura Uluwatu adalah lokasi yang suci dan untuk menghormati ketika berada di tempat peribadatan.

Ketika berkunjung ke area Uluwatu, kita juga mesti waspada menjaga barang-barang yang kita miliki dari incaran para monyet ekor panjang yang hidup liar di kawasan tersebut.

Mereka lihai mencuri barang apa saja dari para pengunjung yang tidak waspada.

Satu lagi, bila beruntung, kita dapat menemukan bunga bangkai yang langka tumbuh di seputar kawasan Pura Uluwatu tersebut. Wisesa