Jadi Orang Jawa Sejati Ketika Berada di York

26
Rimawan Pradiptyo mengungkapkan bahwa budaya kerja ala Inggris tetap diusungnya untuk efisiensi kerja dan hingga bagaimana menjalin hubungan dengan birokrat, sampai masyarakat. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra
Rimawan Pradiptyo mengungkapkan bahwa budaya kerja ala Inggris tetap diusungnya untuk efisiensi kerja dan hingga bagaimana menjalin hubungan dengan birokrat, sampai masyarakat. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra

ALUMNINGGRIS.COM, JAKARTA -Selama 10 tahun (1997 hingga 2007) belajar di Inggris, Rimawan Pradiptyo belajar dan menyelesaikan studi S2 serta S3 di University of York.

Dia mengalami suka duka selama berada di perantauan.

Satu hal yang unik, ia justru merasa menjadi orang Jawa sejati ketika berada di Kota York.

Ketika di York, Rimawan mengaku banyak belajar tentang sejarah.

Awalnya, dia heran melihat acara televisi di Inggris tidak banyak disajikan film atau program hiburan lainnya seperti halnya di Indonesia.

Di Inggris, stasiun televisi lebih banyak menyajikan program acara film dokumenter, khususnya mengenai Perang Dunia II.

“Setelah diikuti maka saya menyadari bahwa film dokumenter tersebut adalah hasil riset dan tiap tahun diperkaya dengan hasil riset yang baru.”

“Kebetulan bidang yang saya pelajari adalah Game Theory yang banyak mengulas tentang taktik atau strategi perang serta pola sejarah.”

“Pengetahuan ini menunjang dalam pekerjaannya sebagai periset kala berhadapan dengan orang-orang yang berasal dari negara berbeda,” ujar Komisaris PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) tersebut di Jakarta belum lama ini.

Baca juga: Belajar Toleransi dan Menerima Keberagaman

Rimawan juga menguasai aksen Yorkshire yang dalam pelafalan kata-katanya mirip dengan bahasa Indonesia.

Misalnya, kata sun (matahari) tetap dibaca sun dan bukan san, kata bus (bis) disebut bus (bukan bas).

“Kota York berada di Inggris bagian Utara, kalau kita memakai aksen Selatan maka kita dianggap orang elit sehingga kita bakal sulit berinteraksi dengan masyarakat kelas menengah ke bawah.”

“Tapi ketika saya menggunakan aksen Yorkshire maka komunikasi dan interaksi dengan mereka jadi lebih cair,” terangnya.

Ketika kembali ke Indonesia, dia sempat kesulitan dalam mengajar, masalahnya, ia merasa kemampuan bahasa Jawa kian meningkat, kemampuannya berbahasa Inggris juga apik.

“Tapi saya banyak tidak paham bahasa Indonesia sebab selama 10 tahun di sana, saya mengubah cara kerja di otak saya.”

“Perbendaharaan kata dalam bahasa Jawa sangat kaya sehingga memudahkan saya berbahasa Inggris.”

“Jadi pola pikir saya saat itu, bahasa Inggris diterjemahkan dalam bahasa Jawa, dan bukan Bahasa Indonesia.”

“Akibatnya, kalau sedang mengajar, saya kadang berpikir tentang suatu kata, kalau di bahasa Jawa-nya ini, dalam bahasa Inggris artinya begini, tapi dalam bahasa Indonesianya apa ya?”

“Dua tahun pertama di Indonesia, saya punya masalah seperti itu,” ungkap Rimawan.

Pengalaman dengan terekspose, melakukan riset, banyak berinteraksi dengan birokrat, masyarakat, serta budaya di Inggris telah banyak mengubah perspektifnya.

Dia memberikan contoh, dalam sebuah pertemuan hanya berjalan satu jam, tapi persiapannya bisa dua hari atau lebih.

Pertemuan berlangsung efisien karena sudah jelas apa yang mesti dilakukan, lalu satu bulan kemudian ketemu lagi untuk evaluasi.

“Saya juga merasa menjadi orang Jawa sejati justru ketika berada di York.”

“Orang Inggris itu istilah Jawanya nggih mboten kepanggih, maksudnya setuju tapi tidak memperlihatkan hal itu secara terbuka.”

“Dalam pertemuan, kita tidak langsung memperlihatkan sikap, tapi semua diperlihatkan lewat sinyal-sinyal.”

“Biasanya setelah pertemuan, saya dan kolega justru berusaha memetakan maksud dari sikap dan perkataan orang yang kami temui tadi.”

“Orang Jawa menyebut hal ini sanepo (sinyal) atau orang Inggris mengistilahkan read between the lines,” tutur pria yang juga aktif mengajar sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Baca juga: Digembleng Jadi Pede, Mandiri, dan Disiplin

Pola kerja ini juga terbawa ketika dia dipercaya menjadi Komisaris di PT Jasindo dan Kepala Departemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.

Budaya kerja ala Inggris tetap diusungnya untuk efisiensi kerja dan hingga bagaimana menjalin hubungan dengan birokrat, hingga masyarakat.

“Pola kerja semacam mengubah perspektif saya tentang bagaimana birokrasi itu mesti dijalankan,” pungkas Rimawan. Wisesa