Kembangkan Desa Wisata dan Destinasi Halal

65
Tantiarini Hidayati berani meninggalkan posisi general manager di beberapa hotel ternama lalu membuka usaha sendiri bersama sang suami sebagai konsultan manajemen hotel, destinasi, dan event organizer dengan menggunakan nama SIVA Management. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra
Tantiarini Hidayati berani meninggalkan posisi general manager di beberapa hotel ternama lalu membuka usaha sendiri bersama sang suami sebagai konsultan manajemen hotel, destinasi, dan event organizer dengan menggunakan nama SIVA Management. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra

ALUMNINGGRIS.COM, YOGYAKARTA – Meninggalkan zona nyaman demi merintis sesuatu yang baru bukanlah sebuah keputusan yang mudah untuk dilakukan.

Namun Tantiarini Hidayati berani meninggalkan posisi general manager di beberapa hotel ternama lalu membuka usaha sendiri bersama sang suami sebagai konsultan manajemen hotel, destinasi, dan event organizer dengan menggunakan nama SIVA Management.

Pendidikan akademis dan pengalaman kerjanya selama lebih dari 20 tahun di bidang pariwisata dan perhotelan jadi modal utamanya.

Ia merangkak dari bawah hingga dipercaya menjadi General Manager di Ibis Styles Bali Kuta Legian, Novotel Batam, dan terakhir di Satoria Hotel Yogyakarta.

Kini ia aktif menjadi trainer, motivator, Assesor Komptensi Profesi Bidang Front Office, Housekeeping, Managerial, dan mengajar di beberapa sekolah menengah kejuruan (SMK), serta universitas di Yogyakarta.

Tanti bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo melakukan pendampingan pengembangan beberapa desa untuk menjadi desa wisata.

Baca juga: Ajak Anggota IABA Lebih Inovatif

Ada empat desa yang didampinginya yakni Desa Bangun Rejo, Ngentak Rejo, Sido Rejo, dan Bangun Cipto.

“Ini pengalaman luar biasa bagi saya karena mesti menyosialisasikan konsep desa wisata dengan berbicara kepada para kepala desa, camat, dan terutama penduduk setempat.”

“Saya menerangkan apa itu desa wisata, manfaatnya buat mereka, serta bagaimana mereka mengembangkan sumber daya yang mereka miliki agar bisa menarik wisatawan untuk berkunjung.”

“Kini telah selesai dibangun Bandar Udara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo, mereka punya peluang besar untuk dikunjungi wisatawan lokal hingga mancanegara yang datang ke Yogyakarta.”

“Konsep wisata yang lagi tren adalah back to nature, hal ini sesuai dengan konsep desa wisata.”

“Apalagi Presiden Joko Widodo punya perhatian khusus terhadap pembangunan desa, salah satunya lewat pengembangan desa wisata, maka hal ini harus mereka manfaatkan,” tutur lulusan Schiller International University di Waterloo, London, Inggris ini.

Gerakkan Roda Ekonomi Desa

Agar konsep desa wisata terwujud, menurut Tanti, maka masyarakat setempat mesti dipersiapkan dan perangkat desa juga harus tahu bagaimana menggerakkan community development.

Artinya, masyarakat sendiri yang harus bergerak menggunakan sumber daya yang mereka miliki guna menggerakkan roda ekonomi di desa mereka sehingga taraf hidup mereka juga meningkat.

Desa yang didampinginya itu mereka memiliki potensi dalam pembuatan batik khas Kulon Progo, yakni Batik Sembung, Batik Farras, dan Batik Sinar Abadi.

Sebenarnya sebagian penduduk sudah membuka butik-butik batik pribadi, hal itu bisa lebih dikembangkan dengan menarik wisatawan untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan batik sekaligus mengajar mereka untuk membatik.

“Penduduk setempat dapat memanfaatkan rumah mereka sebagai home stay bagi para tamu yang datang sehingga tak perlu pulang pergi ke Yogyakarta.”

“Hal ini menjadi nilai tambah untuk mereka.”

“Selain itu, saya membantu mereka membuka link dengan Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) dan travel agen lokal untuk menjadikan desa mereka masuk dalam paket wisata yang ditawarkan kepada wisatawan.”

“Saya juga secara berkelanjutan memberikan pemahaman bagaimana menyinergikan antara kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dengan badan usaha milik desa (BUMdes) agar mereka juga berinvestasi meningkatkan sumber daya di desa untuk pariwisata,” tutur Tanti di Yogyakarta belum lama ini.

Baca juga: Pengawas Pemanfaatan Tenaga Nuklir

Selain menjadi konsultan untuk mengembangkan desa wisata, Tanti juga aktif mengampanyekan konsep destinasi halal.

“Tujuannya bukan untuk menghalalkan destinasi, tapi menyiapkan fasilitas untuk wisatawan Muslim bisa lebih nyaman.”

“Beberapakali saya sudah menyelenggarakan event yang menyiapkan Yogyakarta sebagai destinasi halal.”

“Di bawah bendera SIVA Management, saya juga menggagas paket wisata halal untuk Yogyakarta dan Jawa Tengah.”

“Terus terang, saya sudah merasa nyaman dengan pekerjaan yang saya lakukan saat ini,” ujar anak kedua dari Prof. Dr. Mubyarto, pakar Ekonomi Kerakyatan, tersebut. Wisesa