Kenal IABA Sejak Kecil

104
Dhio Murdargo mengikuti jejak sang ayah dan kakak serta kakak ipar, menempuh pendidikan S2 ke Coventry University, Inggris pada tahun 2012 dengan mengambil bidang studi Marketing Management. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra
Dhio Murdargo mengikuti jejak sang ayah dan kakak serta kakak ipar, menempuh pendidikan S2 ke Coventry University, Inggris pada tahun 2012 dengan mengambil bidang studi Marketing Management. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra

ALUMNINGGRIS.COM, JAKARTA – Indonesia Association of British Alumni (IABA) sebagai wadah para alumni Inggris seolah tak bisa dipisahkan dari kehidupan Dhio Murdargo.

Meski usianya kini tengah menapaki angka 30 tahun dan terpaut dua tahun dari usia IABA yang didirikan November 1991, pria pemilik nama lengkap Nugroho Puspo Murdargo ini bisa jadi merupakan alumni Inggris paling lama mengenal IABA dibanding siapapun alumni Inggris seusianya.

Dhio yang kini bekerja di PT Panasonic Gobel Indonesia sebagai Assisstant Manager Planning Department ini mengaku sudah mengenal nama IABA sejak kecil.

Ayahnya, Murdargo, adalah alumni Inggris tahun 1976 hingga 1977 dan sering membicarakan IABA dengan sang bunda, Petty Tunjungsari, ketika Dhio masih berusia belia.

Apalagi sang kakak, kemudian melanjutkan kuliah ke Inggris dan ketika sang kakak pulang ke Indonesia setelah menempuh pendidikan di Inggris maka nama IABA semakin santer diucapkan dan kerap dibincangkan di keluarganya.

Baca juga: Pembantu Jadi Direktur Utama

“Saya tahu IABA dari orangtua, karena ayah saya juga alumni Inggris sekitar tahun 1976 atau 1977 dan sudah lama berkecimpung di IABA.”

“Jadi sejak kecil nama IABA sudah sering saya dengar,” kata Dhio ketika ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

Nama IABA semakin akrab setelah Dhio pun kemudian mengikuti jejak sang ayah dan kakak serta kakak ipar, menempuh pendidikan S2 ke Coventry University, Inggris pada tahun 2012 dengan mengambil bidang studi Marketing Management.

Dhio mengaku kala itu merasa beruntung, sebab Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) baru saja resmi dibentuk di Coventry, Inggris (PPI Coventry).

“Ada 12 orang dalam pertemuan saat itu yang kemudian mendeklarasikan terbentuknya PPI Coventry.”

“Saya termasuk beruntung karena saat itu ada di sana.”

“Saya bukan pendiri PPI Coventry, tetapi saya menjadi salah satu dari 20 anggota pertama PPI Coventry.”

“Kini jumlah anggota PPI Coventry sudah ratusan,” katanya.

Cucu penyanyi legendaris Titiek Puspa ini bahkan mengaku sempat terlibat aktif di kepengurusan awal PPI Coventry dengan bekerja sebagai Internal Communications, sesuai bidang keilmuan akademiknya.

Baca juga: Jadi Orang Jawa Sejati Ketika Berada di York

Berdasarkan perkenalannya dengan IABA yang sudah dimulai sejak kecil dan pengalamannya ketika terlibat aktif dalam kepengurusan PPI Coventry periode-periode awal, Dhio menilai bahwa IABA adalah organisasi yang bermanfaat, tidak saja bagi para anggotanya tetapi juga masyarakat Indonesia.

“Menurut saya, IABA penting terutama untuk membangun networking.”

“Ketika sedang ngumpul-ngumpul dalam sebuah pertemuan yang difasilitasi IABA, lalu ada kesamaan sudut pandang sama yang kemudian menjadi ice breaker sehingga networking akan jadi lebih mudah terbangun.”

“Kalau menurut saya sih, efek utama dari keberadaan IABA adalah membangun networking,” kata suami dari Martiana Kusumarasri ini. Hasanuddin