Mandiri Berbisnis di Lautan

15
Eswytha Fadzilah mendirikan usahanya sendiri setelah selama beberapa tahun ia bekerja di beberapa perusahaan shipping. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi
Eswytha Fadzilah mendirikan usahanya sendiri setelah selama beberapa tahun ia bekerja di beberapa perusahaan shipping. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi

ALUMNINGGRIS.COM, JAKARTA – “Kalau saya bekerja terus jadi karyawan maka hanya orang lain yang berhasil dan dari dulu saya punya cita-cita, saya tidak mau bekerja sebagai pegawai orang lain.”

Saya hanya mau bekerja untuk orang lain agar bisa belajar dari mereka yang sudah sukses membangun usahanya.”

Penggalan kalimat di atas terlontar dari seorang wanita sekaligus pengusaha muda, Eswytha Fadzilah.

Dalam perbicangan yang akrab di kantornya, dia menuturkan seluk beluk usaha yang digelutinya.

Tahun 2018, Wytha – begitu panggilan akrabnya – mendirikan PT Esfa Maritim Indonesia di usianya yang baru menginjak 30 tahun.

PT Esfa yang dipimpinnya bergerak di bidang jasa kapal laut angkutan barang atau shipping.

Baca juga: Kembangkan Desa Wisata dan Destinasi Halal

Sebelum mendirikan usahanya sendiri, selama beberapa tahun ia bekerja di beberapa perusahaan shipping.

Dia merangkak dari bawah mulai dari staf hingga menjabat berbagai posisi seperti Senior Fleet Operation Officer, Junior Operation Manager, Cost Controller, sampai Business Development.

“Akhirnya setelah belajar semuanya dan saya merasa siap, tim juga sudah ada, maka saya keluar secara baik-baik dari perusahaan dimana saya bekerja dan membangun usaha saya sendiri.”

“Teman-teman yang ingin maju, saya ajak untuk membangun perusahaan ini bersama-sama.”

“Mulai dari personil lapangan hingga administrasi merupakan orang-orang yang cakap di bidangnya.”

“Sumber daya manusia yang bagus itu penting sebagai pondasi untuk membangun usaha agar dapat berkembang,” tutur lulusan University of Dundee ini.

Sejauh ini PT Esfa baru melayani pengiriman barang di seputar Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Malaysia.

“Ke depan, saya berusaha mengembangkan perusahaan ini agar bisa melayani rute-rute ekspor ke mancanegara,” papar Wytha.

Komoditas yang diangkut terdiri dari batu bara, gypsum, dan batu split.

Semula armada kapalnya fokus mengangkut batu bara.

Tapi, tatkala harga batu bara turun di pasar dunia maka ongkos atau biaya angkutannya turut anjlok.

“Hal ini tidak masuk akal bagi saya karena harga bahan bakar minyak (BBM) untuk kapal naik.”

“Seharusnya bicara angkutan logistik, naik turunnya biaya angkut bukan ditentukan oleh harga jenis barang yang diangkut tetapi ditentukan naik turunnya harga BBM.”

“Namun, perusahaan-perusahaan yang butuh jasa angkutan itu berpikirnya kalau harga komoditas muatan turun maka ongkos angkutnya juga turun.”

“Dengan kondisi harga batu bara yang turun maka saya beralih mengangkut komoditas lainnya seperti gypsum dan batu split,” tutur Wytha.

Hilangkan Blame Culture

Oleh karena perusahaannya baru, Wytha belum memiliki armada kapal sendiri sehingga harus menyewa kapal.

Walau ada beberapa investor yang hendak menyuntikkan dana, dia tidak tertarik.

“Saya benar-benar mandiri mendirikan usaha dari nol.”

“Saya tak mau ada investor dan mau bangun pondasi dan sistem perusahaan ini sesuai dengan apa yang saya mau.”

“Karena saya sudah pernah jadi karyawan, di situ ada rasa tidak enak kala ditekan oleh atasan.”

“Oleh sebab itu, saya sebagai pimpinan tidak mau terlalu menekan karyawan yang akhirnya justru dapat kontra produktif untuk perusahaan.”

“Saya juga tak mau menerapkan blame culture.”

“Selama ini saya melihat budaya di perusahaan Indonesia adalah blame culture atau menyalahkan bawahan.”

“Padahal bisa jadi kesalahan itu terjadi karena atasannya tidak memberikan arahan dengan baik, tidak ada komunikasi dua arah yang baik,” tutur anak semata wayang dalam keluarganya ini.

Dalam menjalankan bisnisnya, Wytha juga mengedepankan pendekatan personal, kejujuran, dan menjaga kepercayaan orang lain.

Dia menyadari kondisi kapal dan pekerja kapal di Indonesia kebanyakan masih jauh dari ideal, termasuk tingkat kesejahteraan dan keamanan para awak kabin tidak diperhatikan semestinya.

Dampaknya, kadang ia menemukan awak kapal yang sengaja menjual aset kapal seperti BBM kepada pihak lain agar mendapatkan uang tambahan.

Jika mendapati hal itu maka dia mendatangi awak kapal tersebut dan secara persuasif dia mengajak bicara.

“Saya katakan pada mereka bahwa saya itu mengutamakan kejujuran.”

“Oleh sebab itu, saya pun berharap agar mereka tidak mengambil atau mencuri barang milik orang lain, BBM kapal itu aset milik saya.”

“Karena rata-rata mereka sudah berkeluarga, maka saya ingatkan mereka mesti memberi nafkah yang halal untuk istri dan anak-anak mereka.”

“Syukurlah, apa yang saya sampaikan bisa mereka terima.”

“Saya katakan, tolong jaga amanah ini karena saya konsisten akan melakukan apa yang saya janjikan.”

“Saya minta mereka melakukan yang terbaik. Jangan hanya saya melakukan apa yang terbaik, tapi saya malah mendapatkan yang terburuk,” ucapnya.

Baca juga: Ajak Anggota IABA Lebih Inovatif

Dia juga tidak membiasakan awak kapalnya untuk membayar pungutan liar (Pungli) yang tidak jelas.

“Kalau pun ada pungutan, saya minta mereka memoto saat penyerahan uangnya dan kepada siapa saja uang itu diberikan juga mesti dicatat dan itu masuk dalam laporan keuangan perusahaan.”

“Saya ajarkan mereka bagaimana proses dan tertib adiministrasi, dengan cara ini, saya bisa menghindari Pungli yang jumlah cukup besar.”

“Saya ingin PT Esfa ini bertambah maju hingga akhirnya mempunyai armada kapal sendiri dan bisnis ini berkelanjutan.”

“Oleh sebab itu, saya selalu menjaga kepercayaan orang lain serta nama baik saya,” ucap Eswytha bersemangat. Wisesa