Pembantu Jadi Direktur Utama

222
Direktur Utama PT Mega Eltra Kotot Wasisto menilai pintar dan menguasai teknologi akan percuma bila seseorang tak pintar dalam membina relasi dengan sesamanya. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra
Direktur Utama PT Mega Eltra Kotot Wasisto menilai pintar dan menguasai teknologi akan percuma bila seseorang tak pintar dalam membina relasi dengan sesamanya. Foto: ALUMNINGGRIS.COM/Dhodi Syailendra

ALUMNINGGRIS.COM, JAKARTA – Dalam pengalaman pribadi, networking atau jejaring yang saya bina dapat mendorong karier hingga saat ini.

Ada yang bilang orang pintar bakal menjadi sukses, tapi menurut saya tak selalu orang pintar bisa meraih prestasi bagus.

Guna menunjang kinerjanya supaya sukses, maka seseorang mesti membina relasi dan jejaring dengan baik.

Pintar dan menguasai teknologi akan percuma bila seseorang tak pintar dalam membina relasi dengan sesamanya.

Direktur Utama PT Mega Eltra Kotot Wasisto melontarkan pandangannya tersebut kala bertemu di Jakarta belum lama ini.

Apa yang disampaikannya bukan teori karena dia telah menerapkan hal tersebut di sepanjang kariernya.

Baca juga: Belajar Toleransi dan Menerima Keberagaman

“Tentu saja orang lain bisa punya pengalaman yang berbeda.”

“Bagi saya, kepintaran akademis mesti dibarengi kepintaran untuk membina relasi di keluarga, lingkungan kerja, serta masyarakat,” tuturnya.

Sikap dan etos kerja Kotot ini telah ditempa pengalaman semasa dia kuliah S2 di US International University of Europe di Watford, Inggris, pada tahun 1986.

Karena kondisi keuangan yang minim, dia pernah menjalani hidup sebagai seorang pembantu rumah tangga karena kondisi keuangannya amat terbatas.

“Beruntung, saya ngekos di sebuah keluarga dan diperkenankan tidak membayar sewa dan makan gratis dengan syarat ia mesti membersihkan rumah, mengantar dan menjemput pulang anak si pemilik rumah saat sekolah dan lain-lain,” kenang Kotot.

Dia juga bekerja di kantin sekolah untuk menambah penghasilan dan ia mengikuti kuliah dari pukul enam sore hingga 10 malam.

Sampai rumah ia mesti membersihkan dahulu piring-piring kotor sebelum tidur.

Ketika hari Sabtu dan Minggu, dia dibebaskan untuk mengisi waktu sendiri.

Kotot memilih mengajar di Sekolah Dasar Indonesia pada hari Sabtu dan menjadi guru untuk kelas V.

Dia tidak merasa canggung bekerja meski pada saat itu ayahnya menjabat sebagai direktur utama di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Semasa kuliah di Inggris pun ia menemukan tambatan jiwanya yang kini jadi pendamping hidup atau istri yang telah memberikannya tiga orang putra.

Selepas lulus dari US International University of Europe di Watford, Kotot balik ke Indonesia dan diterima bekerja di PT Petrokimia Gresik pada tahun 1987.

Walau sudah mempunyai gelar Master of Science (S2), dia diterima bekerja dengan standar S1.

Dia menapaki karier di Petrokimia dari bawah, dimulai sebagai staf pemula peneliti.

Seiring perjalanan waktu dan berkat prestasi kerjanya yang apik, Kotot dipercaya menempati berbagai posisi penting dan kariernya menanjak.

Mulai tahun 2007, dia menempati posisi di level direksi.

Dimulai sebagai Direktur Keuangan di PT Petrosida Gresik selama dua tahun, lalu dia dipercaya sebagai Direktur Pemasaran selama satu tahun.

Baca juga: Digembleng Jadi Pede, Mandiri, dan Disiplin

Tahun 2010 hingga 2011, Kotot ditunjuk menjadi Direktur Utama PT Graha Sarana Gresik, lalu Direktur Utama PT Petrokopindo Cipta Selaras (2011-2014).

Lantas di tahun 2014, dia dipercaya menjadi Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Logistik tapi tidak lama.

Pada Desember 2014, Kotot ditunjuk menjadi Direktur Utama PT Mega Eltra hingga kini.

Kotot telah merancang rencana masa depan, dia ingin mengabdikan diri menjadi marbot masjid yang dekat dengan rumah tinggalnya selepas pension.

“Setelah tak bisa menyumbangkan materi untuk masjid, saya ingin memberikan tenaga untuk masjid serta kian mendekatkan diri kepada Allah.”

“Saya mau lebih menekuni ilmu agama,” pungkas Kotot mantap. Wisesa