Setelah Covid-19, Indonesia Perlu Buat Skenario Doomsday

6
Mahawan Karuniasa, pakar lingkungan sekaligus Direktur Environment Institute, mengingatkan sudah saatnya Indonesia memiliki skenario Doomsday atau krisis multidimensi yang mengancam eksistensi kehidupan manusia di planet Bumi. Foto: Istimewa
Mahawan Karuniasa, pakar lingkungan sekaligus Direktur Environment Institute, mengingatkan sudah saatnya Indonesia memiliki skenario Doomsday atau krisis multidimensi yang mengancam eksistensi kehidupan manusia di planet Bumi. Foto: Istimewa

ALUMNINGGRIS.COM, JAKARTA – Pandemi Covid-19 hanyalah salah satu gejala atau tanda-tanda bahwa krisis global multidimensi atau Doomsday akan segera tiba dan berdasarkan hasil penelitian diperkirakan akan terjadi di akhir dekade ini.

“Oleh karena itu tahun 2020-2030 menjadi amat penting bagi Indonesia untuk melakukan revolusi pola pembangunan, agar mampu bertahan menghadapinya,” ungkap Mahawan Karuniasa, pakar lingkungan sekaligus Direktur Environment Institute, di Jakarta, Jumat (8/5/2020).

Menurut Mahawan, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa zoonosis atau penyakit hasil transmisi dari binatang ke manusia mengalami peningkatan, salah satu faktor utamanya adalah berkurangnya keanekaragaman hayati, karena terjadinya deforestasi.

Baca juga: Hadapi Covid-19, Peran Saintis dan Ahli Kesehatan Indonesia Minim sebagai Pencerah di Media Sosial

Diduga, Covid-19 berkaitan dengan kelelawar sebagai inang utama dan trenggiling sebagai inang perantara.

Selain deforestasi, perubahan iklim juga berperan dalam meningkatkan jumlah penyakit zoonosis.

Mengamati semuanya, kondisi lingkungan telah mengalami banyak perubahan.

“Kita saat ini hidup dengan potensi wabah zoonosis yang lebih banyak, CO2 yang lebih tinggi di atmosfer, suhu permukaan bumi yang lebih tinggi, dan spesies yang lebih sedikit atau biodiversity yang lebih rendah.”

“Berdasarkan data terbaru, pada 1 Mei 2020 konsentrasi CO2 di atmosfer menembus rekor mencapai 418 ppm, dan suhu permukaan bumi pada tahun 2019 telah meningkat 1,10 Celcius dibandingkan tahun 1800-an,” ujarnya.

Baca juga: Mandiri Berbisnis di Lautan

Di sisi lain pembangunan di Indonesia masih tidak ramah lingkungan, semakin tinggi PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) suatu provinsi maka kualitas lingkungan hidup semakin menurun.

Omnibus Law juga mengindikasikan belum mendukung pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

“Meskipun masih banyak pekerjaan rumah urusan pembangunan nasional, namun tidak ada waktu lagi, sudah saatnya Indonesia memiliki skenario Doomsday atau krisis multidimensi yang mengancam eksistensi kehidupan manusia di planet Bumi,” pungkas Mahawan. Wisesa